LAGU LAGU DUKUNG JOKOWI






Bonus Demografi, Pendidikan, dan Ketenagakerjaan - Dari KANTOR STAF PRESIDEN

  Yanuar Nugroho Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI Lazlo Bock, salah satu eksekutif sumber daya manusia di Google , dalam sebuah wawa...

 

Yanuar Nugroho

Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI

Lazlo Bock, salah satu eksekutif sumber daya manusia di Google, dalam sebuah wawancara media mengungkapkan fakta menarik. Perusahaan raksasa teknologi informasi ini tidak lagi mempertimbangkan latar belakang pendidikan atau ijazah universitas dalam rekrutmennya. Mereka telah mewawancarai ratusan ribu pelamar, dan menemukan tidak ada korelasi langsung antara bidang studi yang ditekuni di perguruan tinggi dengan kemampuan si pelamar. Mereka juga tidak lagi merekrut berdasarkan kriteria indeks prestasi akademik. GPA, tidak layak lagi dijadikan patokan.

Bock juga mengungkapkan bahwa makin banyak karyawan Google yang tidak mengenyam bangku pendidikan tinggi dari waktu ke waktu. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dari sisi jenis pekerjaan, hingga lima tahun mendatang, diperkirakan banyak pekerjaan yang tadinya eksis akan tergantikan oleh mesin. World Economics Forum (2016) memperkirakan sampai 2020 sekitar 4,8 juta pekerjaan administrasi dan perkantoran akan hilang. Lebih dari 1,6 juta lapangan kerja di bidang manufaktur dan produksi akan digantikan oleh mesin.

Jika di AS ijazah dan prestasi akademik mulai dipertanyakan gunanya oleh perusahaan sekaliber Google, apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan dunia pendidikan dan pasar tenaga-kerja? Apa jenis-jenis pekerjaan yang akan hilang, dan apa yang akan muncul? Apa yang akan dialami oleh negara-negara di dunia, khususnya Indonesia? Lantas, bagaimana ini semua disikapi dan ditindaklanjuti melalui kebijakan?

Fakta pendidikan vokasi

yn1Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan, lulusan SMK justru menyumbang angka pengangguran terbesar yakni 11,4%, disusul lulusan SMA sebesar 8,29%, diploma 6,88%, SMP sebesar 5,54%, universitas/perguruan tinggi sebesar 5,18%, dan SD 2,62%. Data ini menunjukkan Indonesia menghadapi pengangguran usia muda, sehingga perlu solusi menyeluruh. Apalagi dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, jumlah angkatan kerja muda akan mengalami ledakan yang signifikan. Indonesia akan berada pada situasi surplus angkatan kerja muda – sesuatu yang sering disebut ‘bonus demografi’.

Faktanya, sampai dengan 2015, kira-kira 3 dari 10 anak muda menganggur. Memang, saat ini lebih dari 30 juta lulusan SLTA dan lebih dari 10 juta lulusan perguruan tinggi mengisi pasar tenaga kerja. Namun, kualitas lulusan ini dianggap belum sesuai dengan kebutuhan industri, terutama bidang mesin, furnitur, batubara, dan perminyakan. Sementara lulusan di sektor lain seperti real estat dan keuangan tidak dipersiapkan dengan keterampilan yang tepat.

Asian Development Bank (2015) mencatat lebih dari separuh (52%) pekerja di Indonesia berkualifikasi lebih rendah daripada standar yang diperlukan dalam pekerjaan mereka, sementara banyak pekerja berkualifikasi lulusan SMA bekerja di sektor-sektor pekerjaan yang memerlukan keterampilan rendah. Catatan Global Competitiveness Index 2016-2017 atas capaian Indonesia menunjukkan mutlak diperlukannya perbaikan pendidikan dan kesiapan tenaga kerja. Di laporan itu, capaian untuk pilar “Pendidikan Tinggi dan Pelatihan” berada pada peringkat 63 dari 138 negara, sedangkan dalam pilar “Efisiensi Pasar Tenaga Kerja” berada pada peringkat 108 dari 138 negara.

Tiga Tantangan

Berdasarkan output dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi, pertumbuhan jumlah SMK dari 12.659 (2016) menjadi 13.236 (2017) memberi indikasi baik. Demikian juga pertumbuhan akademi yang naik menjadi 1.103 dan politeknik menjadi 262 tahun 2017.

Akan tetapi, peningkatan angka-angka ini harus bisa diukur pula peningkatan kualitasnya. Demikian pula halnya dengan program keahlian ganda bagi guru-guru, pelatihan berbasis masyarakat, pemagangan, dan sertifikasi yang secara statistik terus meningkat. Semuanya harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri yang memerlukan tenaga kerja siap pakai. Saat ini sedang didesain program vokasi yang menyeluruh, sehingga bisa dijadikan dasar untuk mengukur tingkat perkembangan dan memastikan arah kebijakannya tepat sasaran. Tentu tidak mudah dan ada banyak tantangan. Tiga yang utama.

Tantangan pertama adalah penganggaran di APBN yang tidak mengenal anggaran kekhususan untuk vokasi. Karena itu, diperlukan terobosan untuk mengatasi perbedaan penghitungan anggaran pada masing-masing kementerian dan lembaga pemerintah.

Kedua adalah keberanian perguruan tinggi melakukan terobosan dalam pembukaan bidang studi atau jurusan yang dibutuhkan industri dan relevan dengan perkembangan masyarakat.  Dengan proyeksi tahun 2030 permintaan pekerja semi-terampil dan terampil akan meningkat hampir 60 juta pekerja, jika tidak ada solusi yang menyeluruh, Indonesia tidak akan menikmati ‘bonus demografi’. Sebaliknya, terjadi ‘kutukan demografi’ yang salah satunya adalah ketidakmampuan memenuhi permintaan pasar kerja yang telah berubah, walaupun penduduk usia kerja berlimpah.

Tantangan ketiga adalah koordinasi. Kebijakan vokasi yang bersifat komprehensif dan melibatkan seluruh kementerian dan lembaga, serta industri dan pemerintah daerah, memerlukan kemitraan yang luas dan sistem koordinasi yang solid. Oleh karena itu, pemahaman yang sama dalam melihat tantangan di antara setiap pemangku kepentingan menjadi penting, supaya manajemen dan tatakelolanya lebih efisian, dan yang lebih penting, kinerjanya terukur. Ketidaksesuaian keterampilan dan kebutuhan tenaga kerja yang berdampak pada tingginya pengangguran harus diatasi dengan desain program vokasi yang melihat kebutuhan pasar dan menggandeng para pelaku di bidang industri. Untuk itu dibutuhkan (i) informasi yang akurat tentang pasar tenaga kerja, dan (ii) pemanfaatan informasi pasar tenaga kerja sebagai dasar kebijakan vokasi.

Empat Langkah

Menilik tiga tantangan di atas, setidaknya terdapat empat langkah yang perlu dilakukan untuk menata sektor pendidikan dan pelatihan vokasi dan ketenagakerjaan.

Pertama, perlunya peta jalan program Vokasi Nasional dan sistem pengawasan serta evaluasi kebijakan nasionalnya. Proyeksi kebutuhan tenaga kerja industri, penyusunan kerangka kualifikasi dan sertifikasi serta strategi penyerapan tenaga kerja dan efisiensi pasar tenaga kerja adalah awal pembenahan kebijakan vokasi.

Kedua, perlu koordinasi yang kuat karena pembenahan kebijakan vokasi melibatkan semua kementerian, lembaga dan pemda pemda serta industri. Koordinasi yang efektif mutlak untuk menjalankan cetak biru strategi vokasi yang satu dan menyeluruh.

Ketiga, pelembagaan secara terpusat lintas kementerian, lembaga, dan pemda serta melibatkan asosiasi industri dan lembaga vokasi. Sebagai implementasi cetak biru strategi vokasi, forum ini akan menjaga peningkatan kualitas dan relevansi lembaga vokasi, termasuk penyusunan needs assessment dan penggunaan informasi tersebut dalam manajemen lembaga vokasi, penyesuaian kurikulum, sertifikasi, pelatihan/kerja magang untuk guru/instruktur dan siswa, penyusunan informasi penyerapan tenaga kerja/pelacakan lulusan. Keterlibatan industri akan membantu mengatasi mismatch antara keahlian dan keterampilan lulusan serta kebutuhan industri. Industri juga akan terlibat dalam update teknologi dan ketrampilan untuk mendorong kreativitas siswa dan sekolah dalam memasarkan hasil kerjanya (kewirausahaan).

Terakhir, perlu disesuaikannya perencanaan sumber daya manusia dengan arah pengembangan sektor industri/ekonomi daerah dan nasional (seperti Kawasan Ekonomi Khusus). Rencana penyediaan SDM ini perlu diintegrasikan oleh pemerintah mulai dari proyeksi kebutuhan yang sesuai dengan sektor unggulan daerah hingga ke mekanisme umpan baliknya. Hal ini dibutuhkan agar tetap terjadi link-and-match dalam pemenuhan kebutuhan industri daerah.

Fokus perhatian kita saat ini seharusnya dititikberatkan supaya lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi tidak terisolasi dari kebutuhan pasar tenaga kerja hari ini. Di dunia yang bergerak amat cepat, kerja-kerja hari ini bukan hanya soal sertifikasi, namun kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kebijakan ketenagakerjaan dan pendidikan vokasi tidak boleh keliru: Ini bukan perkara persaingan manusia melawan mesin, melainkan menjaga martabat manusia melalui kerja. Kebijakan harus bisa memberi arah agar bonus demografi dapat dinikmati, bukan menjadi kutukan. Karena perubahan tidak mengenal jalan pulang.

***

Yanuar Nugroho adalah Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis. Kontak: yanuar.nugroho@ksp.go.id, twitter: @yanuarnugroho

Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 8-16 Januari 2018



from Kantor Staf Presiden http://ksp.go.id/bonus-demografi-pendidikan-dan-ketenagakerjaan/
PRESIDEN JOKOWI - JOKOWI PRESIDENKU #JOKOWIPRESIDENKU #JOKOWIPRESIDENKU - Pilpres 2019 Siap Coblos Jokowi - Indonesia Hebat Ditangan Presiden Jokowi - Indonesia Maju Ditangan Jokowi - Jokowi Dua Periode - Gema Presiden - Info Presiden Jokowi - Ramalan Jayabaya Presiden Jokowi Dan Ahok Akan Pimpin Indonesia ?? - Siap Siap Hadapi Pilpres Jokowi Pengatur Strategi - Relawan Jokowi Siap Gaungkan Nama Presiden - Presiden Jokowi Sampai Pelosok !! - Presiden Hebat Jokowi - Presiden Jokowi Super - Presiden Jokowi For R1 - Jokowi Presidenku - Mengapa Pilih Jokowi - Jokowi Saja - Presiden Hebat Indonesia Presiden Ke 7 Indonesia Siap 2 Periode - Ditangan Jokowi Indonesia Hebat - Siapkah Kamu Pilih Jokowi ?? Mengapa Pilih Presiden Jokowi - KERJA KERJA KERJA - Indonesia KERJA BERSAMA - 2019 Pilih  Jokowi Saja - Jokowi Bawa Indonesia MEROKET - MEROKET Bersama Jokowi !!. Rakyat Pilih Jokowi - JOKOWI YES YANG LAIN NO - 2019 Jokowi Menang Lagi ?? - Jokowi Siap NYAPRES - Pendukung Siap menangkan Jokowi - Relawan Sosial Media Jokowi 2 Periode - 2 Periode Jokowi Tidak Ada Lawan - Calon Terbaik Indonesia Cuman Jokowi - Pilihan Tepat Hanya Jokowi !! - 2019 Jangan Lupa Coblos Jokowi - Siapapun Pasangan Jokowi Tetap Pilih Beliau !!

INGAT - JOKOWI PRESIDEN RAKYAT INDONESIA


Supported BY SUARASOSMED.COM !! Kunjungi Suarasosmed Untuk Update Informasi Terkini
http://ksp.go.id/wp-content/uploads/2018/01/YN1-1024x576.jpeg

COMMENTS

Name

INDONESIA DEVELOPMENT,24,INFO JOKOWI,317,KANTOR STAF PRESIDEN,11,ORIGINAL,4,PILIH JOKOWI,4835,SETKAB - JOKOWI,79,
ltr
item
Ayo Pilih Presiden Jokowi Sekali Lagi !! - Salam 2 Periode: Bonus Demografi, Pendidikan, dan Ketenagakerjaan - Dari KANTOR STAF PRESIDEN
Bonus Demografi, Pendidikan, dan Ketenagakerjaan - Dari KANTOR STAF PRESIDEN
http://ksp.go.id/wp-content/uploads/2018/01/YN1-1024x576.jpeg
https://2.bp.blogspot.com/-_rwuOgxfF64/Whz9XifTOkI/AAAAAAAAALo/n3zs6pBrd5ozqw0Dg6Q3knL1uiGkEbMQACLcBGAs/s72-c/%2523jokowipresidenku-4_New.jpg
Ayo Pilih Presiden Jokowi Sekali Lagi !! - Salam 2 Periode
http://www.wartabali.net/2018/01/bonus-demografi-pendidikan-dan.html
http://www.wartabali.net/
http://www.wartabali.net/
http://www.wartabali.net/2018/01/bonus-demografi-pendidikan-dan.html
true
5403235864349489740
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy